Wisata Religi Makam Mbah Wasil di Kediri

foto
Peziarah di Makam Mbah Wasil Kediri. Foto: Liputan6.com/Dian Kurniawan.

Lantunan doa dan pembacaan ayat suci Alquran terdengar di area makam Syeh Wasil Syamsudin. Makam tokoh penyebar agama Islam di Kediri yang lebih akrab disapa Mbah Wasil itu berada di lokasi wisata religi di Setono Gedung, Kota Kediri.

Makam Mbah Wasil ramai dikunjungi warga terutama saat bulan Ramadan. Peziarah yang datang bukan habya berasal dari Kediri dan sekitarnya saja, bahkan peziarah dari luar negeri pun seperti dari Brunei Darussalam dan Malaysia juga datang untuk berziarah di makam Mbah Wasil.

Karena banyaknya pengunjung yang datang, makam Setono Gedong pun menjadi andalan wisata religi pemerintah setempat. Setono Gedong ditetapkan sebagai lokasi cagar budaya oleh BPCB Trowulan Mojokerto Jawa Timur.

Dikisahkan, sebelum masa perkembangan Islam di Kediri, Setono Gedong merupakan tempat sesembahan bagi kaum dengan kepercayaan tertentu. Ini dibuktikan dengan keberadaan situs-situs arca yang terdapat disekitar Setono Gedong.

Setelah Islam masuk di Kediri, daerah Setono Gedong menjadi tempat penyebaran agama Islam dengan ditandai dibangunya masjid Setono Gedong serta adanya makam tokoh penyebar agama Islam di Kediri yaitu Syeh Wasil Syamsudin antara tahun 920 – 929 Hijriah atau tahun 1514 – 1523 Masehi.

Yusuf mengatakan, jumlah pengunjung yang datang semakin banyak terutama pada saat momentum hitungan hari ganjil di bulan puasa atau malam Lailatul Qadar. Hitungan jumlah pengunjung yang datang pada malam tersebut bisa mencapai 30 ribu orang di makam Mbah Wasil.

“Menjelang Idul Fitri, atau malam ganjil yakni pada malam ke 25, 27, dan 29, pengunjung yang datang bisa mencapai 30 ribu orang mas, selain warga lokal kediri yang datang juga banyak dari luar daerah di Indonesia,” tutur Yusuf, Minggu (12/5).

Dia menjelaskan pengujung yang datang dari luar daerah diantaranya, Jakarta, Bandung, Bali, Surabaya, Malang, Solo, Blitar, Tulunganggung. Bahkan mereka pun harus rela menginap, jika datang terlalu malam.

Yusuf mengisahkan, Mbah Wasil masuk ke Kediri pada masa Pemerintahan Kerajaan Sri Aji Joyobo, pada abad ke 10 atau 11 Masehi. Syech Wasil Syamsudin dikenal oleh masyarakat berasal dari Istambul Turki.

Masyarakat kemudian memberinya gelar Pangeran Mekah. Namun kebanyakan masyarakat lebih suka menyebutnya dengan nama panggilan Mbah Wasil.

“Dipanggil Mbah Wasil karena beliau sering memberikan Wasil (ahli bertutur sapa, berpetuah yang baik),” katanya.

Ketika masuk di Kediri yang pada waktu itu mayoritas penduduknya beragama lain, Syech Wasil Syamsudin tidak serta merta langsung syiar menyebarkan agama islam, melainkan terlebih dahulu melakukan pendekatan ke masyarakat. Setelah dilakukan pendekatan lambat laun masyarakat akhirnya mau menerima ajaran islam pada masa itu.

Pada umumnya para pengunjung, setelah berziarah ke makam Mbah Wasil selalu merasakan ketenangan batin dan segala kesulitan yang dihadapi selalu menemukan solusi (Berdoa meminta kepada allah).

Selain makam Mbah Wasil, di wisata religi Setono Gedong juga terdapat tokoh besar lainya seperti makam Wali Akba, Pangeran Sumende, Sunan Bagus, Sunan Bakul Kabul, Kembang Sostronegoro, Mbah Fatimah dan Amangkurat.

“Wisata religi, disini ada delapan titik. Mbah Wasil itu wali sepuh yang datang termasuk kurang lebih abad 10 atau 11. Pada masa itu masuk pemerintahan Sri Aji Joyobo,” jelasnya.

Bahkan Mbah Wasil saat itu dirumorkan menjadi guru spiritual Sri Aji Joyoboyo. Keduanya memang memiliki hubungan yangsangat dekat.

“Bahkan diduga mereka ada hubungan emosional. Ada yang mengatakan Mbah Wasil guru spritual sri Aji Joyo boyo. Bahkan karena kedekatanya, membuahkan sebuah Jongko atau kitab pusaran Jongko Joyoboyo,” ucap pria yang memiliki nama lengkap Muhammad Yusuf Wibisono itu.

Area halaman luar makam Mbah Wasil pernah diperbaiki, pada masa Pemerintahan Wali Kota Kediri Maschut.

Yusuf menjelaskan, pengambilan nama Setono Gedong memiliki arti Setono sebagai makam sedangkan Gedong sesuatu yang besar. jika digabungkan menjadi kalimat makam pembesar (tokoh).

Pada momentum bulan suci Ramadahan seperti sekarang, banyak warga yang berziarah sambil ngabuburit menunggu kumandang azan di Masjid Setono Gedong serta ke makam Mbah Wasil. (sumber)

Add Comment