Kuntulan: Seni Islam Jawa Pesisir Utara

foto
Bupati Banyuwangi pada acara Festival Kuntulan. Foto: Surabayapagi.com.

Kuntulan merupakan salah satu ekspresi budaya masyarakat pesisir utara (pantura). Kesenian ini, memiliki andil yang besar dalam pembentukan karakter masyarakat pantura. Di samping sebagai tontonan, Kuntulan juga berfungsi sebagai tuntunan.

Pada masanya, Kuntulan merupakan salah satu kesenian yang populer di Kabupaten Lamongan bagian utara, tepatnya di daerah Paciran, Brondong dan Laren. Kesenian ini mencapai periode keemasan pada rentang tahun 1940an hingga 1990an.

Kuntulan memiliki empat komponen seni yang disajikan dalam satu pertunjukan. Keempat komponen tersebut adalah seni tari, shalawat, Jedhoran, dan pencak silat. Seni tari dijadikan sebagai pembuka, Jedhoran sebagai musik pengiring, shalawatan sebagai lagu pengiring dan pencak silat sebagai pertunjukan puncak sekaligus penutup.

Adanya elaborasi keempat kesenian itu bertujuan agar pertunjukan Kuntulan menjadi menarik dan meriah bagi masyarakat. Harapannya adalah petuah yang ada dalam pertunjukan Kuntulan dapat tersampaikan pada khalayak. Itulah kesaksian Mbah Kamidi, pegiat dan pelatih Kuntulan di Lamongan pada masa itu.

Kuntulan dipentaskan oleh beberapa lapis pemain dengan tugas serta peran masing-masing. Lapis pertama disebut sebagai peraga yang berjumlah 12 orang. Tugas peraga adalah memeragakan pertunjukan, mulai dari seni tari sampai pencak silat.

Pemain selanjutnya adalah para penabuh musik Jedhoran. Sedangkan yang terakhir adalah seorang pemain yang bertugas sebagai pelantun sholawat sekaligus pengarah jalannya pertunjukan. Menariknya, semua pemain tersebut haruslah berjenis kelamin laki-laki.

Saat ditanya alasan mengapa pemain Kuntulan harus laki-laki, Mbah Karmidi mejawab bahwa hal itu sudah menjadi aturan sejak Kuntulan pertama kali diciptakan. Selain itu, persyaratan tersebut juga dikarenakan adanya pertimbangan moral mengenai nilai kesopanan yang sesuai dengan adat istiadat setempat.

Komponen Kuntulan
Komponen pertama dalam Kuntulan adalah tari. Komponen ini terdiri dari tiga gerakan yang juga memilki nilai-nilai filosofis. Pertama adalah gerakan seperti orang berjalan dengan tempo pelan seiring irama jedhor dan shalawat. Keadaan itu terus berlangsung hingga para pemain berbaris dua jajar menyamping sempurna.

Gerakan pertama ini menyimpan nilai filosofis tentang keyakinan manusia. Dalam perjalanan hidupnya, keyakinan manusia seringkali mengalami pasang surut. Hal ini disebabkan adanya keragu-raguan dari dalam diri manusia itu sendiri.

Gerakan kedua adalah mengibaskan kipas yang dipegang oleh para pemain. Kipas itu dikibaskan dengan pelan dan harmonis. Saat itu para pemain berdiri dengan sedikit memeragakan koreo agar terlihat indah serta artistik. Gerakan ini menyiratkan nilai filofosis, bahwa dalam menjalani hidup seharusnya manusia dapat menjaga keselarasan, keseimbangan dan harmoni antara dirinya dengan alam sekitarnya.

Gerakan ketiga adalah duduk sembari tangan diletakan pada paha layaknya duduk tasyahud. Posisi ini menyimbolkan puncak kepasrahan seorang hamba kepada Tuhannya. Semua gerakan itu diiringi oleh iringan Jedhoran serta lantunan shalawat yang sesuai dengan makna filosofis setiap gerakan.

Berikutnya adalah komponen Sholawat. Komponen ini digunakan sebagai lagu pengiring. Shalawat dalam Kuntulan berisi puji-pujian kepada Nabi Muhammad SAW, para Rasul serta Khulafa’ur Rasyidin. Semua itu diambil dari berbagai bacaan syair yang terdapat dalam Diba’ dan Barzanji.

Komponen ketiga adalah Jedhoran. Dalam pertunjukan Kuntulan, Jedhoran digunakan sebagai musik pengiring. Alat musik yang digunakan dalam Jedhoran adalah Rebana dan Jedhor. Kedua alat musik itu ditabuh dengan tempo pelan serta menyesuaikan gerakan yang sedang diperagakan oleh para pemain.

Komponen terkahir adalah pencak silat. Menurut Sucipto, pencak silat merupakan hasil budaya manusia Indonensia untuk membela, mempertahankan eksistensi (kemandirianya) dan integritas terhadap lingkungan hidup/alam sekitarnya untuk mencapai keselarasan hidup guna peningkatan iman dan taqwa kepada Tuhan yang Maha Esa (Sucipto, 2001: 16-28).

Pencak silat merupakan sesi pertunjukan yang paling digandrungi oleh para penonton. Oleh karena itu, tak mengherankan jika komponen ini disebut sebagai acara puncak dalam pertunjukan Kuntulan. Pada praktiknya, ada dua dua jurus dalam pencak silat ini, yaitu Jurus Pencak Kembangan dan Jurus Pencak Musuhan.

Jurus Kembangan diperagakan oleh pemain seorang diri. Macam-macam Jurus Kembangan yang diperagakan biasanya bergantung pada skill dasar dan selera pemain. Selain diperagakan dengan energik, Jurus Kembangan juga harus mempertimbangkan unsur keindahan dan kesempuraan tiap-tiap gerakan.

Berikutnya adalah Jurus Pencak Musuhan. Sesuai dengan arti kata Musuhan yakni bertarung melawan musuh, pada sesi ini para pemain menampilkan gerakan Pencak Silat berpasangan. Kedua pemain tersebut bertanding layaknya dua pendekar sedang bertarung satu lawan satu.

Pertandingan dapat dilakukan dengan menggunakan senjata maupun tangan kosong. Tentunya, senjata yang dipergunakan adalah senjata khusus yang dipersiapkan sebelumnya agar tidak membahayakan pemain.

Pada sesi ini, para pemain memperlihatkan gerakan saling menyerang dan menangkis yang dikemas secara dramatik. Tujuannya bukanlah saling melukai antar pemain, melainkan mempertontonkan unsur keindahan dan harmonisasi gerakan. Oleh karena itu, tak semua pemain bisa memperagakan adegan ini. Hanya pemain yang sudah lama berpasangan yang berhak memeragakan Jurus Pencak Musuhan.

Itulah sekelumit kabar tentang kesenian Kuntulan dari sesisir utara. Sanyangnya, kesenian itu semakin lama semakin kabur jejak keberadaanya. Kuntulan yang menjadi priomadona di masanya telah tergerus oleh kepongahan yang disebut sebagai modernisasi. (Ditulis: Heru Widianto, Jaringan Penulis Islam Jawa)

Add Comment