Tradisi Nyekar di Bukit Surowiti Gresik

foto
Bukit Surowiti ramai pengunjung terutama hari Senin dan Kamis. Foto: Gresikkab.go.id.

Nyekar adalah tradisi Jawa yang diyakini sebagai jalan mendapatkan berkah dari roh leluhur. Tradisi nyekar masih kerap dilakukan di atas bukit Surowiti oleh masyarakat lokal bahkan sampai manca negara.

Bukit Surowiti ketinggian 260 meter diatas permukaan laut (mdpl), terletak di Desa Surowiti Kecamatan Panceng Kabupaten Gresik. Terdapat banyak situs dan makam-makam kuno.

Nyekar berasal dari kata sekar yang artinya kembang atau bunga. Nyekar identik dengan menabur bunga seperti halnya yang dilakukan ketika nyekar di bukit Surowiti dengan cara menaburkan bunga di atas makam yang dikunjungi.

Dengan berbagai macam bunga yang dipercaya mempunyai aura mistis itu menjadi syarat dalam ritual nyekar. Bunga yang digunakan ritual nyekar seperti kembang boreh, kembang telon dan kembang setaman, kembang tujuh rupa dan sebagainya.

Bahkan masyarakat juga menyertakan upo dengan jumlah ganjil atau membakar kemenyan sehingga menghasilkan aroma khas sekali di area situs atau makam bukit Surowiti.

Tradisi nyekar dalam skala kecil atau nyadran dalam skala besar ini belum terlacak secara pasti kapan pertama kali dilakukan. Kata Hamzah tradisi nyekar atau nyadran muncul pada era para wali, bahwa tradisi ini diperkenalkan oleh para wali yang di satu sisi untuk meneruskan tradisi penghormatan kepada roh leluhur.

Seperti cikal Bbkal, makam tua yang disakralkan, tokoh-tokoh desa, danyang, raja-raja, orang sakti di kalangan masyarakat Jawa yang masih menganut agama Hindu-Buddha pada jaman itu. Dan di sisi lain, para wali ingin menyelaraskan dan mensintesiskan dengan ajaran Islam tanpa mengubah tradisi lama.

Bukit Surowiti juga menyimpan banyak misteri sejarah. Hal ini dikuatkan oleh banyaknya situs dan makam-makam kuno yang ada di situ. Konon, di tempat yang sama juga terdapat petilasan atau bahkan makam Sunan Kalijaga, salah satu Walisongo yang keberadaan makamnya masih kontroversial hingga hari ini.

Di lokasi yang sama juga dipercaya ada makam Mpu Supo Mandrangi, yakni suami Dewi Roso Wulan (adik Sunan Kalijaga). Juga makam Raden Bagus putra Raja Mataram, dan makam-makam sesepuh Desa Surowiti.

Berbagai khasanah yang ditinggalkan leluhur menjadi kelebihan wilayah tersebut. Itulah yang membentuk sugesti masyarakat bahwa wilayah tersebut menjadi suwung (wilayah yang mempunyai nilai mistis).

Tradisi nyekar masih mengakar dalam masyarakat Surowiti, apalagi ketika ada acara pernikahan, sangan calon pengantin harus nyekar terlebih dahulu ke bukit Surowiti untuk meminta do’a restu dan keberkahan dari leluhur, khususnya nyekar di makam Sunan Kalijaga.

Sebelum nyekar calon pengantin juga diharuskan silaturahmi terlebih dahulu ke Juru Kunci sebagai pemangku situs untuk meminta izin. Dengan etika nyekar harus dalam keadaan suci an berbusana yang sopan.

Tidak hanya masyarakat lokal saja yang melakukan nyekar ke tempat tersebut, masyarakat umum pun banyak, apalagi bila mempunyai hajat besar atau kepentingan yang khusus, dengan catatan ingin memohon doa restu dan keberkahan serta kekuatan spiritual karena menghadapi suatu masalah besar, seperti terbelit hutang, mengalami kebangkrutan dalam usaha, dan permasalahan lain-lainya.

Ada juga peziarah yang memiliki tujuan khusus seperti ingin naik jabatan, kelangengan dalam jabatan, menambah kewibawaan, pengelarisan dan perjodohan.

Bermacam do’a yang terpanjatkan ketika nyekar, ada yang berbahasa Jawa seperti mantra khusus, meski umumnya para peziarah bedo’a dengan menggunakan bahasa Indonesia dan Arab. Dalam rangkaian itu, ada juga yang membaca ayat-ayat suci al-Qur’an dan tahlil.

Orang nyekar tidak cukup dengan duduk sebentar kemudian meninggalkan lokasi. Di Surowiti para peziarah bisa berjam-jam, terutama mereka yang nyekar di makam Sunan Kalijaga. Tidak jarang sebagian peziarah juga menginap berhari-hari di sana baru pulang, karena harus melakoni meditasi serta berbagai jenis ritual.

Aktivitas ritual nyekar di Bukit Surowiti dibuka Setiap hari 24 jam. Kecuali makam Sunan Kalijaga yang hanya dibuka pada hari Senin dan Kamis mulai jam 05.00 sampai 16.00 WIB.

Selain hari itu para peziarah hanya diizinkan berdoa di luar makam. Ada hari dan bulan tertentu yang disakralkan dan diyakini mempunyai daya spiritual yang tinggi, yakni hari Jumat Legi dan Bulan 1 Suro (1 Muharrom).

Pada bulan khusus seperti bulan Ramadhan, makam Sunan Kalijaga itutup 1 bulan Penuh. Apabila ada yang nyekar di bulan itu, maka semua ritual dilakukan di luar makam.

Makam Sunan Kalijaga tutup selama bulan Ramadhan ditutupnya, dan dibuka kembali pada hari Raya Idul Fitri. Hal ini sudah menjadi tradisi dari leluhur Desa Surowiti.

Abdul Mun’im sebagai Juru Kunci makam Sunan Kalijaga menegaskan bahwa, tidak ada seorangpun yang berani membuka makam selain hari yang sudah ditentukan. “Hal itu sudah pakem sebagai dasar dan pesan dari para leluhur,” jelas Juru Kunci.

Nyekar ini juga merupakan ritual bagi mereka yang mempunyai hajat. Bila mereka berhasil atau tercapai keinginan yang diharapkan, maka yang bersangkutan akan melakukan nyekar kembali untuk menyambung doa dan melakukan slametan dengan membawa tumpeng dan ayam panggang.

Apabila hajatnya lebih besar seperti memenangkan tender, maka akan bersangkutan akan melakukan slametan dengan memotong kambing bahkan sapi sebagai ucapan rasa syukur kepada Allah SWT.

Tradisi nyekar ini tidak hanya ingin mendapat keberkahan dan memohon doa restu pada roh leluhur, tetapi juga menjaga hubungan masyarakat dengan para leluhur serta mendekatkan diri kepada Tuhan. Karena, melalui kegiatan nyekar kita selalu diingatkan pada kematian. (Ditulis : Youming Adi Yusuf, Jaringan Penulis Islam Jawa)

Add Comment