Sandur, Kesenian dan Identitas Bojonegoro

foto
Pentas kesenian Sandur di Bojonegoro. Foto: Istimewa.

Sandur merupakan kesenian khas Kabupaten Bojonegoro. Sandur bahkan telah menjadi ikon kota tersebut Bojonegoro, seperti halnya Ludruk sebagai ikon kota Surabaya. Ketika Sandur dipentaskan, masyarakat antusias menyaksikan dikarenakan proses cerita unik dan menyenangkan.

Sebelum diadakanya pementasan Sandur ada ritual yang musti dilakukan. Ritual itu berupa mandi besar oleh setiap pemeran Sandur serta nyekar di makam leluhur desa tempat acara tersebut berlangsung.

Tujuan diadakanya ritual itu ialah dalang rangka membuang mala bahaya, meminta keselamatan lahir dan batin, serta berdoa kepada Tuhan agar acara berjalan dengan lancar. Setelah melaksanakan ritual, barulah pertunjukan Sandur dapat dilaksanakan.

Proses pertunjukan Sandur terbagi menjadi tiga bagian yaitu bagian pembuka, cerita dan penutup. Bagian pembuka tersaji dalam bentuk nyanyian doa pembuka yaitu bismillah.

Kemudian disusul tarian pembuka yaitu Jaranan. Jaranan juga berfungsi mengiringi pemeran dari ruang rias memasuki blabar janur kuning bersama perias yang membawa obor untuk diserahkan kepada germo.

Selanjutnya germo sebagai pemimpin Sandur, sambil memegangi obor menceritakan proses turunnya empat puluh bidadari yang merasuki tokoh pemeran Sandur (Wibiono dkk,2009).

Tokoh pemeran Sandur dimainkan oleh empat orang pada bagian cerita yaitu Garong, Pethak Cawik dan Wak Tansil. Casting tokoh Sandur tidak harus seorang seniman. Rakyat bebas berperan terhadap tokoh siapapun sehingga pembawaan gimik memiliki karakteristik berbeda namun dasar perwatakan tokoh tetap sama.

Perwatakan tokoh Garong berwatak serakah, pintar mengakali Pethak. Sementara itu, Pethak berwatak lugu, romantis dan bodoh. Lain pula, Cawik berwatak anggun dan kalem. Dan Wak Tansil berwatak edan, cerewet, bertutur lucu dan bijak pada saat bersamaan.

Penyajian cerita Sandur dahulu memiliki perbedaaan dengan cerita Sandur sekarang. Cerita Sandur dahulu hanya tentang kehidupan pertanian. Karena jenuh pada kisah cerita mengenai kehidupan pertanian maka cerita Sandur dimodifikasi menyesuaikan perkembangan zaman.

Cerita sandur sekarang tergantung pada konteks acara Sandur dipentaskan. Semisal di acara pernikahan maka akan diceritakan sebuah cerita asmara.

Dialog Sandur menggunakan bahasa dialek yang memiliki kekhasnya tersendiri. Sandur menggunakan bahasa jawa ngoko diselingi bahasa jawa krama khas Jonegoroan. beberapa bahasanya ada imbuhan kata em-, seperti omahem, pacarem, ibuem, bapakem dan lain-sebagainya.

Selain itu, panggilan sapaan untuk pria menggunakan kata “kang”. Untuk logat dialeknya dari awal hingga akhir cerita berintonasi nada datar, terkecuali peran Wak Tansil, ia berdialek dengan intonasi bebas karena penokohanya bersifat guyonan dan blak-blakan. Untuk menambah suasana Sandur, Panjak Hore bertugas memeriahkan pementasan.

Panjak Hore merupakan segerombol orang yang duduk di tengah-tengah blabar janur kuning. Tugasnya bernyanyi sambil menari pada setiap peralihan segmen cerita. Nyanyian tersebut diiringi musik kendang dan gong yang dimainkan Panjak Kendhang dan Panjak Gong.

Setiap nyanyian mengandung arti tersendiri seperti mendung sepayung dinyanyikan apabila kemungkinan terjadi hujan ketika pementasan, kembang gambas dilantunkan ketika para pemeran mulai berias, pitek lancur dilantukan ketika para pemeran mulai bedak dan lain-lain.

Panjak Hore seringkali bersikap ricuh, riuh dan celometan terhadap cerita yang dibawakan pemeran. Meskipun begitu, hal tersebut justru menjadikan kehangatan suasana di dalam pementasan Sandur.

Tak jarang pula baik pemeran maupun Panjak Hore saling melemparkan dialog kepada masyarakat yang menyaksikan pementasan sehingga dalam hal ini dapat memunculkan rasa kebersamaan. Kebersamaan tersebut terjadi karena tata set blabar janur kuning yang merupakan panggung kesenian Sandur.

Blabar janur kuning berbentuk pagar persegi dengan bambu ber-oblek di setiap sudutnya. Bambu itu dihubungkan dengan tali tampar berlilit janur dan bergelantung jajanan pasar.

Blabar janur kuning pementasan Sandur bertempat di lapangan terbuka. Pengaturan penataanya dibentuk dengan prinsip berdiri sama tinggi duduk sama rendah. Jadi, jarak antara panggung dengan masyarakat sangat dekat.

Blabar janur kuning memiliki permaknaan terkait dengan sedulur papat lima pancer. Sedulur papat atau empat kiblat merupakan setiap sudut blabar janur kuning yang diisi oleh keempat pemain Sandur.

Sedangkan lima pancernya yaitu germo (paugeran lima) sebagai pusat pemandu jalanya pertunjukan. Selain itu ada pula dua bambu tinggi dengan tali tambang sebagai penghubung kedua bambu yang bergelantung untuk atraksi di bagian acara penutup.

Acara penutup Sandur dilakukan dengan atraksi kalongking. Atraksi kalongking merupakan atraksi memanjat bambu sampai ke pucuk, kemudian bergelantungan, tidur, berputar, dan makan sembari menyebrang dari bambu satu ke bambu lainya.

Dalam atraksi kalongking ini terdapat bermacam-macam pemaknaan tergantung interpretasi penonton. Makna-makna tersebut diantaranya mengingat Tuhan yang berada di langit karena ketika melihat kalongking kepala kita melihat ke atas.

Ada juga yang memaknai atraksi kalongking sebagai wujud pembersihan diri manusia dari hal bersifat kehewanan.

Kesenian teater tradisional Sandur sebagai hasil produk kebudayaan masyarakat Bojonegoro sekaligus menjadi ikon kesenian Kabupaten Bojonegoro. Memiliki gaya khas dan menyimpan nilai luhur tersendiri. (Ditulis : Achmad Ilham Muji Prasetya, Jaringan Penulis Islam Jawa)

Add Comment