Sejarah Singkat Kraton Van Ratoe Boko

foto
Candi Ratu Boko di Kab Sleman Jawa Tengah. Foto: Kemdikbud.go.id.

Ratu Boko merupakan situs arkeologi berupa peninggalan Kerajaan Mataram dari abad ke-8, cikal bakal pendiri Candi Borobudur dan Candi Prambanan.

Situs Ratu Boko berada di wilayah Kabupaten Sleman, kira-kira 3 km di sebelah selatan dari kompleks Candi Prambanan, 18 km sebelah timur Jogja atau 50 km barat daya Solo.

Menurut sejarah, Keraton Ratu Boko dahulu digunakan pada masa Dinasti Syailendra sebelum masa Raja Samaratungga (pendiri Candi Borobudur) dan Rakai Pikatan (pendiri Candi Prambanan).

Di situs itu ditemukan prasasti yang dikeluarkan oleh Rakai Panangkaran pada tahun 746-784 Masehi. Situs Ratu Boko disebut Abhayagiri Wiraha. Abhaya berarti “tidak ada bahaya”, giri berarti “bukit”, dan wihara berarti “asrama atau tempat”.

Maka, Abhayagiri Wihara berarti “asrama atau wihara bagi para biksu Buddha yang terletak di sebuah bukit yang penuh dengan kedamaian (tidak ada bahaya)”.

Masa selanjutnya, antara tahun 856-863 Masehi, Abhayagiri Wihara diubah namanya menjadi Keraton Walaing dan juga benteng pertahanan oleh Raja Vasal (bawahan) yang bernama Rakai Walaing Pu Kumbayoni. Prasasti Siwagrha menyebutkan tempat ini sebagai benteng pertahanan yang terdiri atas tumpukan beratus-ratus batu oleh Balaputra.

Dari abad 10 hingga abad 16 tidak ada berita yang terkait dengan Keraton Walaing. Kisahnya berlanjut pada 90 tahun kemudian.

Pada tahun 1790, Van Boeckholtz menemukan adanya reruntuhan kepurbakalaan di situs Keraton Ratu Boko. Seratus tahun kemudian, FDK Bosch mengadakan penelitian dan melaporkan hasil penelitiannya yang diberi judul Kraton Van Ratoe Boko. Sejak itulah, situs itu dikenal dengan nama Keraton Ratu Boko. (sak)

Add Comment