Bunker, Gua dan Meriam Kuno di Alas Purwo

foto
Bunker jaman Jepang di kawasan Taman Nasional Alas Purwo. Foto: BPCB Jatim.

Taman Nasional Alas Purwo (TN Alas Purwo) adalah taman nasional yang terletak di Banyuwangi seluas 43.420 hektar. Selain memiliki keanekaragaman flora dan fauna di kawasan TN Alas Purwo juga banyak benda-benda peninggalan masa lalu.

Ada puluhan bunker, gua dan meriam kuno di kawasan TN Taman Purwo. Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Timur telah mendata bangunan dan benda kuno tersebut.

Di wilayah Sembulungan, menghadap ke arah Teluk Pagpang, Muncar, yang dahulu dikenal sebagai jalur keluar masuk komoditas dagang kolonial, tersebar banyak bunker.

Bunker ini dijadikan tempat pengintaian jalur transportasi/aksesibilitas lalu lintas laut antara pelabuhan Muncar dan teluk Pangpang sekaligus sebagai tempat perlindungan saat penyerangan musuh memasuki Teluk Pagpang.

Bunker memiliki satu ruangan terbuat dari bahan batuan yang dicor dipadu dengan beberapa lapisan semen. Karena tertutup gundukan tanah, untuk memasukinya melalui semacam parit rendah mengarah pada sebuah lorong pendek berdinding batu cor.

Lorong tersebut sedikit membelok ke arah kiri berbatas dinding, ambang pintu masuk ruangan di sisi kanan dinding. Pada dinding sisi selatan atas terdapat sebuah lubang tembus hingga ke atas.

Gua jepang terdapat di kawasan yang sama dengan bunker dan berada di tengah-tengah hutan bambu. Gua merupakan sebuah lubang alami di tanah yang cukup besar dan dalam.

Secara umum sarana militer jepang dibangun dengan memanfaatkan kondisi lingkungan. Gua ini dimanfaatkan sebagai tempat pengintaian.

Akses masuk gua di sebelah timur laut mengarah ke barat daya dengan 22 anak tangga dilanjutkan anak tangga kedua yang berbelok ke kanan berupa 19 anak tangga hingga menuju ke lantai dasar goa. Di samping tangga terdapat lorong yang diperkirakan menuju ke arah pantai.

Saat ini digunakan sebagai sarana wisata edukasi sejarah. Namun karena dihuni banyak kelelawar, bagian lantai dipenuhi dengan kotoran.

Meriam yang ada rata-rata berada di sisi selatan laut di Alas Purwo Tanjung Sembulungan. Jumlahnya puluhan.

Ada yang tergeletak di tanah dengan posisi membujur utara-selatan. Meriam lainnya kondisi masih terpasang pada roda yang sudah terlepas dari porosnya.

Pada bagian pangkal meriam terdapat tulisan yang menunjukkan ukuran berat yaitu 4918 kg. Selain itu juga terdapat tulisan FRIED KRUPP ESSEN 1900.

Meriam disebut juga dengan kanon yaitu sejenis artileri yang umumnya berbentuk tabung dalam ukuran yang besar. Dalam penggunaannya biasanya menggunakan bubuk mesiu atau bahan pendorong lainnya untuk menembakkan proyektil.

Meriam memiliki beberapa ukuran kaliber, jangkauan, sudut tembak dan daya tembak. Meriam pertama kali digunakan di Tiongkok, untuk meriam genggam pertama kali di Timur Tengah. Selain itu di Eropa juga menggunakan meriam dalam berbagai pertempuran.

Meriam dianggap sebagai senjata standar perang paling efektif dalam menghadapi musuh karena jangkauannya dan efek pemusnah yang besar sehingga digunakan terhadap infanteri dan bangunan.

Dalam perkembangannya muncul laras melingkar sehingga tingkat keakuratan meriam menjadi semakin tinggi khususnya terhadap infanteri.

Setelah abad pertengahan, meriam berukuran besar mulai ditinggalkan dan digantikan dengan meriam ringan yang lebih banyak dan mudah untuk digerakkan.

Seiring berkembangnnya penggunaan meriam di medan pertempuran, muncul pula benteng dan Bunker pertahanan untuk menahan serangan dari meriam musuh.

Hal ini sesuai dengan sebaran tinggalan arkeologi yang ada di kawasan Alas Purwo khususnya Resort Sembulungan yaitu selain ditemukannya banyak Bunker juga ditemukan meriam sebagai alat standar perang di medan pertempuran. (ist)

Add Comment