Informasi Seni Lewat Wara-wara Project

foto
Fuad dan Yusuf dari komunitas Wara-Wara Project. Foto: PIH Unair.

Tiga mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia (Sasindo) Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Airlangga (UNAIR) sabet juara satu pada event Kemah Budaya Kaum Muda (KBKM) 2019. Ketiga mahasiswa yang menjadi perwakilan dari komunitas Wara-Wara Project tersebut adalah Muhammad Fuad Izzatulfikri (FIB 2017), Muhammad Yusuf Awali Taufiqi (FIB 2017), dan Balqis Primasari (FIB 2018).

Event yang diadakan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) tersebut berlangsung di Bumi Perkemahan Prambanan, Klaten, Juli lalu. Lomba itu diikuti oleh 133 tim yang berasal dari 28 provinsi di Indonesia.

Muhammad Fuad Izzaltulfikri menjelaskan, selain mematangkan konsep serta materi yang akan dipresentasikan mereka juga memastikan kesiapan mental anggota yang akan dikirimkan pada lomba tersebut. Selain itu juga meminta dukungan dan doa dari rekan-rekan serta keluarga dekat.

“Kendala yang ditemui ialah karena kami bukan berasal dari mahasiswa jurusan bisnis dan terdapat bisnis model kanvas, hal tersebut cukup asing dan membuat kami bingung apa yang harus dipersiapkan. Namun disana kami mendapatkan fasilitator seorang karyawan dari e-commerce untuk membantu kami selama disana, jadi kendala tersebut teratasi,” tuturnya.

Menurut Fuad dalam perlombaan tersebut mereka mempresentasikan perihal purwarupa aplikasi Wara-Wara Project yang akan difungsikan sebagai sarana ruang informasi seni dan sastra. Gagasan tersebut tentu akan sangat bermanfaat bagi masyarakat secara luas dan sekaligus membantu mempertahankan eksistensi dari pertunjukan budaya yang semakin kesini mengikis dan berkurang peminatnya.

Fuad juga menjelaskan bahwa perkembangan teknologi tidak seharusnya menjadi hal yang selalu negatif. Maka dari itu dirinya dan rekan-rekannya menggagas adanya Wara-Wara Project ini sebagai ruang informasi seni dan sastra dengan memanfaatkan perkembangan teknologi.

Muhammad Yusuf Awali Taufiqi selaku founder Wara-Wara Project menjelaskan bahwa ide ini berawal dari sebuah keresahan terhadap minimnya ruang informasi seni dan sastra akhirnya pada tahun 2017. Wara-Wara Project lahir dan kini telah memiliki website dan akun hampir di semua media sosial.

“Kami (Wara-wara Project, Red) mengikuti kegiatan tersebut karena ingin mengembangkan komunitas Wara-Wara Project kedalam sebuah platform aplikasi, yang mana kami akan mendapat kontrol penuh. Tidak seperti di media sosial yang mainstream seperti Instagram dan sejenisnya, karena terkadang ditemui permasalahan pada media sosial tersebut dan tidak dapat teratasi oleh kami,” tutupnya. (ita)

Add Comment