KH Maimoen Zubair Wafat di Makkah

foto
KH Maimoen Zubair. Foto: NU.or.id.

Innalillahi wainnailaihi raiji’un, kabar duka datang dari Tanah Suci. Ulama kharismatik yang juga Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Maimoen Zubair diberitakan wafat di sela menunaikan ibadah haji di Makkah, Arab Saudi, pada Selasa (6/8/2019) sekitar pukul 04.17 waktu setempat.

Ulama sepuh yang telah mencapai usia 91 tahun itu meninggal di kamar nomor 1423 di tempat penginapannya di Makkah. Beliau sempat dilarikan ke rumah sakit setempat. Kabar tersebut salah satunya datang dari Ketua Rabithah Ma’ahid Islamiyah PBNU KH Abdul Ghafarrozin.

“Innalillahi wa inna ilahi raji’un. Nembe mawon kapundut Simbah Maimoen Zubair wonten Makkah (baru saja wafat Syekh Maimoen Zubair di Makkah),” katanya dalam sebuah pesan singkat.

Ulama yang akrab disapa Mbah Moen ini merupakan salah satu dari anggota Ahlul Hall wal Aqdi (Ahwa) pada Muktamar ke-33 NU di Jombang tahun 2015 lalu dan NU Online pernah memuat profil singkatnya.

Kiai Haji Maimoen Zubair merupakan seorang alim, faqih sekaligus muharrik (penggerak). Selama ini, Kiai Maimoen merupakan rujukan ulama Indonesia, dalam bidang fiqih. Hal ini, karena Kiai Maimoen menguasai secara mendalam ilmu fiqih dan ushul fiqih.

Ia merupakan kawan dekat dari Kiai Sahal Mahfudh, yang sama-sama santri kelana di pesantren-pesantren Jawa, sekaligus mendalami ilmu di tanah Hijaz.

Mbah Maimoen lahir di Sarang, Rembang, pada 28 Oktober 1928. Kiai sepuh ini, mengasuh Pesantren al-Anwar, Sarang, Rembang, Jawa Tengah. Mbah Maimoen merupakan putra dari Kiai Zubair, Sarang, seorang alim dan faqih. Kiai Zubair merupakan murid dari Syekh Saíd al-Yamani serta Syekh Hasan al-Yamani al-Makky.

Kedalaman ilmu dari orang tuanya, menjadi basis pendidikan agama Mbah Maimoen sangat kuat. Kemudian, ia meneruskan mengajinya di Pesantren Lirboyo, Kediri, di bawah bimbingan Kiai Abdul Karim. Selain itu, selama di Lirboyo, ia juga mengaji kepada Kiai Mahrus Ali dan Kiai Marzuki.

Pada umur 21 tahun, Maimoen Zubair muda melanjutkan belajar ke Makkah Mukarromah. Perjalanan ini, didampingi oleh kakeknya sendiri, yakni Kiai Ahmad bin Syuáib. Di Makkah, Kiai Maimoen Zubair mengaji kepada Sayyid Alawi bin Abbas al-Maliki, Syekh al-Imam Hasan al-Masysyath, Sayyid Amin al-Quthbi, Syekh Yasin Isa al-Fadani, Syekh Abdul Qodir al-Mandaly dan beberapa ulama lainnya.

Kiai Maimoen juga meluangkan waktunya untuk mengaji ke beberapa ulama di Jawa, di antaranya Kiai Baidhowi, Kiai Ma’shum Lasem, Kiai Bisri Musthofa (Rembang), Kiai Wahab Chasbullah, Kiai Muslih Mranggen (Demak), Kiai Abdullah Abbas Buntet (Cirebon), Syekh Abul Fadhol Senori (Tuban), dan beberapa kiai lain. Kiai Maimoen juga menulis kitab-kitab yang menjadi rujukan santri. Diantaranya, kitab berjudul al-ulama al-mujaddidun.

Selepas kembali dari tanah Hijaz dan mengaji dengan beberapa kiai, Kiai Maimoen kemudian mengabdikan diri untuk mengajar di Sarang, di tanah kelahirannya. Pada 1965, Kiai Maimoen kemudian istiqomah mengembangkan Pesantren al-Anwar Sarang. Pesantren ini, kemudian menjadi rujukan santri untuk belajar kitab kuning dan mempelajari turats secara komprehensif.

Selama hidupnya, Mbah Maimoen memiliki kiprah sebagai penggerak. Ia pernah menjadi anggota DPRD Rembang selama 7 tahun. Selain itu, beliau juga pernah menjadi anggota MPR RI utusan Jawa Tengah. Karena kedalaman ilmu dan kharismanya, Kiai Maimoen Zubair diangkat sebagai Ketua Majelis Syariah Partai Persatuan Pembangunan (PPP).

Komitmen Kebangsaan
Di usia senjanya, tidak membuat Mbah Maimoen absen dalam persoalan umat, ilmu, dan kebangsaan. Beliau tidak sedikit pun terlihat letih ketika menghadiri Konferensi Bela Negara di Pekalongan, Jawa Tengah 2016 lalu.

Selain bersua dengan banyak ulama-ulama tahariqah dunia, beliau juga ingin menegaskan bahwa seberat apapun beban yang yang harus dipikul, membela agama, bangsa, dan negara harus menjadi perhatian dan tugas bersama.

Setahun sebelumnya, semangat kebangsaan juga ditunjukkan Mbah Maimoen yang tetap berdiri ketika menyanyikan lagu Indonesia Raya di pembukaan Muktamar ke-33 NU di Jombang tahun 2015 di tengah kondisi fisiknya yang tidak menentu.

Meskipun beliau hadir dengan menggunakan kursi roda namun tetap berdiri ketika sesi menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya. Tanpa dipapah oleh siapapun, seketika itu beliau berdiri. Momen itu direkam langsung oleh putri sulung Gus Dur Alissa Wahid yang menyaksikan kejadian tersebut yang kemudian viral di jagat maya.

Semangat yang sama juga Mbah Maimoen tunjukkan ketika membakar semangat anak-anak muda NU di arena Muktamar tersebut. Mbah Maimoen memberikan materi tantangan kaum muda NU di masa depan yang semakin kompleks.

Karena tidak hanya menghadapi kelompok-kelompok yang membahayakan keutuhan negara, tetapi juga dunia teknologi yang makin berkembang pesat. Kini semangat serupa ditunjukkan oleh ulama kharismatik itu dalam kegiatan dengan esensi Bela Negara tersebut.

Politik dalam diri Mbah Maimoen bukan tentang kepentingan sesaat, akan tetapi sebagai kontribusi untuk mendialogkan Islam dan kebangsaan. Demikianlah, Kiai Maimoen merupakan seorang faqih sekaligus muharrik, pakar fiqh sekaligus penggerak. (nu.or.id)

Add Comment