Sanggar Lidi Pentaskan ‘Aktivizm’ ke Mahasiswa Unair

foto
Pementasan Aktivizm oleh Sanggar Lidi Surabaya. Foto: PIH Unair.

Kali kedua setelah tahun 2018, Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Airlangga (UNAIR) menggelar pementasan teater dalam rangka menyambut mahasiswa baru tahun 2019.

Jumat (30/08) malam di Balai Pemuda Surabaya, menjadi salah satu moment isimewa bagi seluruh mahasiswa baru FIB UNAIR.

Sebagai penanaman kebudayaan mahasiswa baru FIB UNAIR, mereka berkesempatan langsung menyimak karya drama dari seorang sastrawan kelahiran Tanah Pasundan, Totenk Mahdasi Tatang Rusmawan.

Bersama dengan sanggar seninya, Sanggar Lidi Surabaya, Totenk MT Rusmawan menampilkan karya dramanya berjudul Aktivizm.

Begitu pentingnya mengenalkan kebudayaan dikalangan mahasiswa zaman sekarang. Totenk dalam sambutannya menyampaikan rasa bangganya kepada FIB UNAIR, yang berupaya mengenalkan kebudayaan pada mahasiswa baru melalui pementasan malam itu.

Sebuah harapan, semoga FIB UNAIR dapat menjadi percontohan bagi kampus di seluruh Indonesia.

“Merupakan kebahagiaan ditengah maraknya sebuah kebudayaan yang muncul di benak muda-mudi kala ini. Dimana masing-masing kampus seluruh indonesia mayoritas melakukan ospek dengan ditutup inagurasi band sebagai hiburan semata. Semetara fakultas ilmu budaya menutup kegiatan orientasi mahasiswa dengan kegiatan kebudayaan, terimakasih,” papar Totenk.

Menampilkan sebuah naskah yang lahir dari kegelisahan Totenk yang melihat dan merasakan bagaimana para aktivis negeri ini bergerak dan bermanuver tidak lagi mengatasnamakan rakyat dan masyarakat, namun justru hanya untuk eksistensi diri pribadi.

Naskah tersebut dikemas dengan sangat apik dan seolah melekat pada kehidupan pergerakan aktivis terutama mahasiswa.

“Kami tampilkan, sebuah naskah hasil pergolakan diskusi bersama di Sanggar Lidi Surabaya, sebuah naskah yang berupaya mencoba menawarkan kesaksian-kesaksian dunia pergerakan,” ungkapnya.

Penampilan dengan mengangkat alur cerita mulai dari kehidupa aktivis sebelum kemerdekaan hingga masa sekarang, dikemas secara apik oleh Totenk. Dalam pentas itu juga, pesan-pesan Totenk tersebut cukup tampak.

Terwujud pada kisah Sugi dan Mily sepasang suami istri yang memiliki sebuah warung kopi untuk tempat usaha. Sugi yang terlilit hutang rentenir begitu dengan pasti mempertahankan idealismenya dengan terus berjualan dan enggan akan sogokan. Sugi dengan teguh tidak melupakan idealismenya kala menjadi aktivis semasa mudanya.

“Aktivis adalah simbol masyarakat kritis, aktivis adalah gerakan pengabdian,” secuil dialog yang menarik dalam pentas teater tersebut.

Konteks itu mengisaratkan bahwa, asktivis bukanlah ajang unt mencar eksistensi namun untuk sebuah pengabdian. Melawan kesewenang-wenangan mejadi kunci sebuah pergerakan, kritis namun penuh keadilan.

Sementara itu, Wakil Dekan III FIB UNAIR Rizki Andini SPd MLitt PhD dalam sambutannya mengungkapkan bahwa pementasan itu, mengungkapkan bahwa pementasan itu sebagai bahan untuk mendorong mahasiswa untuk mencintai budaya teater.

Tidak hanya K-pop maupun J-pop yang populer dikalangan pemuda, namun juga cinta budaya sendiri menjadi jati diri mereka. “Cintailah budaya sendiri, karena budaya merupakan ciri dari jati diri kita,” ujarnya. (ita)

Add Comment