Warisan Budaya Lokal & Pengembangan Ekonomi Kreatif

foto
ASEAN Regional Workshop on Creative Economy 2019 di Bali. Foto: Bekraf.go.id.

“Pengembangan Ekonomi Kreatif Global dan Dampaknya terhadap Kesejahteraan Penduduk” menjadi topik yang diangkat dalam kegiatan ASEAN Regional Workshop on Creative Economy 2019 yang berlangsung di Nusa Dua Bali pada Rabu (4/9).

Di sesi kedua ini peserta membahas berbagai upaya memanfaatkan warisan budaya lokal dalam pengembangan ekonomi kreatif (ekraf) di negaranya.

Perwakilan dari negara anggota ASEAN mempresentasikan perkembangan sektor ekonomi kreatif di negaranya masing-masing.

Guru besar Fakultas Teknik bidang Arsitektur Universitas Indonesia, Paramita Atmodiwirjo yang hadir sebagai pembicara menyampaikan sebuah proyek yang dapat mempromosikan kebudayaan lokal untuk mengembangkan kesejahteraan masyarakat.

Proyek yang disebutnya ‘Tanahku Indonesia’ mengeksplorasi kekayaan material lokal dari Indonesia menggunakan tanah atau batu-batuan. Proyek ini mengumpulkan berbagai jenis tanah dan batuan yang ada di seluruh Indonesia untuk kemudian dikembangkan menjadi alat yang dapat digunakan sehari-hari dengan kualitas yang lebih bagus.

“Meskipun kita sudah ada di zaman modern tetapi hal-hal tradisional tetap akan selalu mempunyai keunikan tersendiri yang dapat dieksplorasi,” ujar Paramita.

Thailand juga menyampaikan bahwa negaranya memiliki proyek untuk mengembangkan ekraf dengan memanfaatkan warisan kekayaan lokal. Mereka mengembangkan produk yang terbuat dari daun pisang dan batang pisang. Batang pisang dikembangkan untuk dapat menjadi pengganti bahan material plastik yang lebih tahan lama dan kuat.

Selain itu Thailand juga berhasil mengembangkan kawasan Charoenkrung sebagai ‘creative district’ dengan membangun workshop, art gallery, dan tempat-tempat untuk berkreativitas lainnya. Sektor ekraf Thailand berhasil menyumbang 9,1% dari jumlah PDB negaranya, dengan sektor kriya menempati tempat tertinggi.

Begitu juga dengan Filipina, dengan pertumbuhan ekonomi yang tumbuh cukup pesat, sektor ekonomi kreatif kini menyumbang sebanyak 7 % dari total PDB. Sektor ekraf yang menyumbang paling banyak adalah media (TV, radio, media cetak), hiburan (musik, pertunjukan), dan software. Selain itu, salah satu kota di Filipina yaitu Baguio berhasil mendapat gelar sebagai ‘Creative City’ dari UNESCO.

“Industri kreatif sudah menjadi sektor yang paling dinamis di dunia sepanjang dekade ini, termasuk di Asia. Total ekspor produk kreatif dari negara ASEAN ke mancanegara telah mencapai angka 23 miliar dolar di 2015,” ujar Chief Creative Economy UNCTAD, Marisa Henderson.

Festival Director Joe Sidek asal Malaysia mengungkapkan bahwa salah satu cara untuk meningkatkan pertumbuhan ekraf dan kesejahteraan adalah dengan mengadakan festival.

Ketika festival yang dibuat sudah berhasil menarik perhatian orang-orang, maka dengan sendirinya akan ada manfaat ekonomi. Akan banyak bermunculan café, restoran, hotel, dan toko di daerah tersebut. “Kebudayaan, kesenian, dan pariwisata bila disatukan dapat menjadi sumber penghasilan yang besar” imbuhnya. (sak)

Add Comment