Kontribusi Film Membangun Karakter Bangsa

foto
Mendikbud Nadim Makarim. Foto: Istimewa.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Nadiem Anwar Makarim pada perhelatan Apresiasi Bunda PAUD Tingkat Nasional November lalu menekankan pentingnya konsep bermain dan belajar dalam pendidikan.

Menurutnya, bagian terpenting dalam proses pendidikan adalah rasa senang ketika belajar yang membentuk karakter siswa untuk saling mengenal, berkolaborasi, dan berkreasi yang berujung pada tumbuhnya rasa cinta terhadap sekolah dan dunia pendidikan.

Mendikbud mengatakan, masyarakat saat ini hidup di era sangat dinamis dan dituntut untuk beradaptasi dengan cepat. Menurutnya, mengusung pendidikan tidak melulu melalui jalur formal.

Oleh karena itu, orangtua harus membuka cakrawala dalam memodifikasi bentuk-bentuk edukasi yang menyenangkan, salah satunya lewat film.

Membekali anak-anak dengan kemampuan beradaptasi yang mumpuni, kata Mendikbud, dan membekali mereka dengan karakter, pengetahuan, serta keterampilan adalah yang paling dibutuhkan di saat ini dan di masa depan.

“Sebagian dari kualitas-kualitas itu telah tertanam di dalam masyarakat kita dan perlu terus kita pupuk, seperti semangat gotong royong dan toleransi. Sebagian lagi masih perlu kita tumbuhkan, seperti kemampuan berpikir kritis atau analytical thinking,” ujar Mendikbud.

Ketua Umum Badan Perfilman Indonesia (BFI), Chand Parwez Servia, mengamini pendapat Mendikbud Nadiem. Ia mengatakan, jika film terus diberdayakan bisa menjadi sesuatu yang lebih baik karena film mempunyai kekuatan besar dalam pembentukan karakter.

“Saya sebagai penggemar film, mengakui bahwa film membentuk karakter saya, lingkungan saya, dan sekolah saya. Jadi saya sebagai pembuat film selalu mencoba jangan sampai film memberikan efek negatif,” tambah Chand Parwez pada malam penganugerahan Piala Citra 2019, Minggu (8/12) lalu.

Lebih lanjut ia menguraikan bahwa seringkali film tidak hanya menjadi tontonan yang berpengaruh pada karakter seseorang namun juga mengambil bagian dalam sarana diskusi dan pemberi solusi atas masalah yang terjadi di masyarakat.

Hal itu pula yang mempengaruhi proses penilaian FFI dari tahun ke tahun, di mana gagasan, tema, dan estetika terus berkembang mengikuti perkembangan dan kebutuhan zaman.

“Mengingatkan kembali pesan yang disampaikan Mendikbud bahwa banyak film menarik bergenre baru yang menyuarakan hal-hal sensitif. Di sinilah film hadir sebagai ruang ekspresi, bahkan lebih dari itu ia bisa menjadi ruang diskusi yang melahirkan solusi,” ujar Ketua Umum BPI periode 2017-2020 itu.

Oleh karena itu, untuk menambah kecintaan masyarakat terhadap film Indonesia, Chand Parwez berharap agar Kemendikbud terus mendukung pemberdayaan dan fasilitasi perkembangan perfilman.

“Film ini masalah pilihan. Orang memilih pilihan menontonnya, pembuat film membuat pilihan bagi penontonnya. Apabila pilihan ini kita arahkan ke hal yang lebih bermanfaat, maka ini semua bisa menjadi manfaat positif. Ini bisa jadi suatu gerakan,” katanya.

Peranan film di masyarakat yang begitu besar dalam mengedukasi masyarakat membuat Chand Parwez berpesan kepada para sineas untuk terus menciptakan karya yang meng-Indonesia dan berkualitas.

“Kita semua bisa berkarya lebih baik untuk menciptakan film berkualitas. Pesan saya untuk para sineas terus belajar dan berkarya lebih baik,” pungkasnya. (ist)

Add Comment