Rekayasa Air, Kunci Kejayaan Kahuripan

foto

Patung Airlangga yang didewakan berupa Dewa Wisnu mengendarai Garuda. Foto: Arsip Nasional.

Satu masa dalam sejarah Nusantara yang cukup mengemuka dalam soal pengelolaan infrastruktur air adalah zaman Kerajaan Kahuripan dengan rajanya yang bernama Airlangga atau Erlangga.

Dari namanya, Er yang memang berarti “air” dan Langga yang berarti “lompat” sudah menunjukkan dirinya sebagai seorang raja besar punya keterkaitan khusus dengan air.

Bencana yang disebabkan oleh air adalah hal yang diceritakan di dalam Prasasti Pucangan yang bertahun 1041 Masehi.

Di dalamnya diceritakan adanya “Mahapralaya” atau bencana besar yang terjadi di Kerajaan Medang atau Mataram Kuno pada sekitar 939 Saka atau 1017 Masehi.

H Kern adalah ahli epigrafi Belanda yang menerjemahkan prasasti ini. Dialah yang menulis terjadinya bencana alam bersamaan dengan serangan pasukan Panglima Wurawari.

Bencana disebut sebagai “Arnawa” atau “Ekarnawa”. Tafsirnya bisa berupa banjir besar akibat lahar dingin hingga gelombang air laut yang membanjiri daratan alias tsunami.

Nama Erlangga adalah yang tercatat dalam prasasti, yang dikenal juga sebagai prasasti Calcutta, karena telah dipindah ke Calcutta sebagai cinderamata pada masa kekuasaan Stamford Raffles.

Para ahli menerjemahkan kata Erlangga bermacam-macam mulai dari orang yang selamat dari air, orang yang melompati air, hingga orang yang meminum air laut.

Mengatasi Banjir
Armenson Diga Sandi beserta Yohanes Hanan Pamungkas dari Jurusan Pendidikan Sejarah, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Surabaya pada 2015 menulis sebuah artikel tentang penanganan bencana banjir di masa Raja Airlangga.

Artikel yang terbit di Jurnal Pendidikan Sejarah Avatara itu berjudul “Banjir Sungai Brantas Masa Raja Airlangga Abad XI”.

Kiprah Airlangga, setelah berhasil mengkonsolidasikan kekuatannya bermula ketika dia melakukan kampanye penaklukan kerajaan-kerajaan kecil di Jawa bagian timur sebagai upaya untuk memperkuat kedudukannya sebagai raja yang utama.

Salah satu kerajaan kecil yang berhasil dia taklukkan adalah Raja Wijayawarmma dari Wengker, sekitar Madiun saat ini. Kedudukan pusat kerajaan Kahuripan tempat Airlangga mengelola pemerintahannya ditengarai berada di sekitar Kediri.

Profesor Johannes G de Casparis, seorang filolog ternama asal Belanda, dalam sebuah makalah yang dia sampaikan saat menjadi guru besar Filologi Universitas Airlangga pada 1958 menulis dengan cukup ringkas tentang kebesaran Raja Airlangga.

Dia mencatat kejayaan Airlangga berawal dari kemenangan Airlangga atas Wijayawarmma yang terjadi pada 1035. Catatan kemenangan itu juga bersumber dari Prasasti Pucangan.

Setelah sukses menaklukkan Wengker, Raja Airlangga menggelar ‘pasowanan agung’. Perisitiwa ini dicatat di Prasasti Kamalagyan. Prasasti ini ditemukan di sekitar Desa Kelagen, Krian, Sidoarjo.

Catatan dalam prasasti ini merujuk tahun 1037. Pada tahun itu telah dibangun sebuah bendungan yang berada di Waringin Sapta. Bendungan ini dibangun karena Sungai Brantas, sungai besar yang menyambungkan Kerajaan Kahuripan dengan dunia luar, kerap menjebol tanggul-tanggul di wilayah-wilayah alirannya.

Giliran Kerukunan Masyarakat
Sungai Brantas adalah sungai terpanjang kedua di Pulau Jawa. Terbesar yang pertama adalah Bengawan Solo.

Sebagai sungai yang menyambungkan Kahuripan dengan sumber kemakmuran, baik melalui limpahan air yang mengaliri sawah-sawah untuk mengamankan sandang pangan penduduk kerajaan, ataupun perdagangan yang menyambungkan Kahuripan dengan belahan dunia lain, Airlangga harus memulai pembangunan kerajaan dengan mengatasi banjir yang kerap menimpa akibat luapan Kali Brantas.

Profesor Casparis mencatat, prasasti Jawa Kuno dari periode 1035 hingga 1042 mencatat usaha-usaha Airlangga untuk memajukan kemakmuran rakyat. Beberapa hal dia lakukan seperti pengairan irigasi dan mengatasi bencana banjir adalah hal yang pertama dia lakukan.

Kemudian dia membangun kawasan-kawasan bandar persinggahan dan penyeberangan atau dalam bahasa Jawa Kuno disebut sebagai ‘penambangan’.

Setelah pembangunan infrastruktur fisik selesai, Airlangga melanjutkan dengan pembangunan infrastruktur kerohanian masyarakat Kahuripan.

Catatan itu tertulis dalam inskripsi prasasti mencatat perlindungannya terhadap tiga agama besar yang hidup pada waktu itu, yakni agama Siwa, Buddha, dan agama Resi atau Brahmin.

Menantang Sriwijaya
Pasukan Wurawari yang menyerang Medang dalam konteks geopolitik pada masa itu oleh Profesor Casparis diterjemahkan sebagai pasukan kolonial atau vassal penguasa Sriwijaya yang ingin menyerang kerajaan-kerajaan yang tidak mau tunduk di pedalaman.

Serangan yang berhasil memporak-porandakan Medang ternyata harus ditarik mundur ke pangkalan semula di bandar Lwaram atau dikenal sebagai Desa Ngloram di sekitar Blora pada sekarang ini.

Kehancuran Medang akibat serangan musuh dan bencana alam menyisakan sebuah masa pengasingan bagi Airlangga yang dikisahkan harus masuk hutan dan menjalani laku ‘tapa’ pengasingan dengan cukup menggunakan kulit kayu sebagai busananya.

Bagian dari ‘glorifikasi’ atas kebesaran Airlangga adalah sebuah simbol kebesaran seorang pemimpin yang dilukiskan seperti sang Arjuna Sasrabahu yang harus menjalani laku tapa sebelum bisa membangun kembali kerajaan yang menjadi haknya.

Atau pengasingan keluarga Pandawa ke hutan selama belasan tahun sebelum menemukan kembali haknya atas kekuasaan Hastinapura.

Setelah peristiwa ‘pralaya’ Medang yang terjadi pada 1017 Masehi, ternyata setelah menjalani laku selama lebih dari dua belas tahun Airlangga akhirnya berhasil menaklukkan vassal-vassal Sriwijaya yang ada di Pulau Jawa.

Ramesch Chandra Majumdar dalam buku Suvarnadvipa: Political History (1986) mencatat bahwa Raja Airlangga tidak serta-merta terlibat konfrontasi dengan Sriwijaya.

Sedikit demi sedikit membangun gerilya konsolidasi kekuatan penguasa-penguasa lokal yang mau menjadi sekutunya sampai tersimpul menjadi dua kekuatan yang siap untuk bertarung. Tercatat tahun 1029 M Airlangga menaklukkan Bisaprabhawa. Pada 1030 dia menaklukkan Wijayawarmman dari Wengker yang mungkin merupakan vassal terbesar Sriwijaya.

Tahun 1031 dia menaklukkan Adhamapanuda dan terakhir kerajaan Wurawari sang penyerbu akhirnya ditaklukkan pada tahun 1033. Sejak penaklukan inilah zaman keemasan Airlangga mengalami perkembangan yang tercatat dalam sejarah. (sumber)

Add Comment