Catatan ‘Marco Polo’ Russia tentang Jawa

foto
Peta Pulau Jawa kuno. Foto: Istimewa.

Sebuah akun bernama Medieval Indonesia yang ada di media sosial Twitter belakangan ini kerap membagi berbagai hasil penelitiannya tentang “Indonesia” di abad pertengahan.

Akun yang digawangi oleh AJ West ini merupakan akun microblogging tempat dia berbagi pengetahuan dan masukan untuk keperluan studi doktoralnya di Universitas Leiden.

Salah satu yang dia bagi adalah artikel berjudul “A Medieval Russian Description of Java” yang diunggah pada 17 Desember 2019 di situs medium.com.

Pada 1466 seorang pengelana dan pedagang dari Tver, Russia (sebelah utara Moskow) mengalami nasib naas dirampok di tengah jalan dalam perjalanan ke Astrakhan di dekat laut Kaspia. Alih-alih balik ke daerah asalnya, dia malah melanjutkan pengelanaan ke India dan menghabiskan beberapa tahun di sana.

Dia mencatat buku harian tentang deskripsi daerah yang dia datangi dan berbagai hal lain yang dia dengar selama di sana.

Salah satu yang menarik dari catatan Nikitin adalah apa yang dia dengar tentang Jawa. Tentu saja Nikitin tidak pernah pergi ke Jawa, tetapi dia mendengar dari cerita yang dia dapat selama berada di India.

Nikitin datang di India pada pertengahan abad 15, pada masa itu yang berkuasa di di sekitar India Utara, adalah Dinasti Bahman yang merupakan salah satu pecahan dari Kesultanan Delhi yang sedang mengalami masa transisi.

Nikitin adalah “Marco Polo”-nya Russia. Sebuah film epik tentang dirinya pernah dibuat dalam kerja sama Sovyet-India pada 1957. Film itu “Pardesi atau Journey Beyond Three Seas.

Catatan Nikitin tentang Jawa yang ditulis dalam huruf cyrilic sebagai “Shabait” adalah gambaran tentang pelabuhan besar yang ada di pinggir Samudera Hindia. Pelabuhan itu begitu besar yang sanggup menampung kapal yang juga sangat besar.

Di Jawa pada waktu ada prajurit-prajurit dari Khorasan yang bekerja untuk Raja Jawa dengan diberi upah satu “tenek” sehari. Catatan Mendez Pinto yang berasal dari abad 17 menguatkan tentang prajurit-prajurit “soldier of fortune” berlatar kosmopolit dari berbagai negara yang melayani kerajaan-kerajaan Nusantara yang gemar berperang.

Hingga saat ini Khorasan mendapat tempat tersendiri dalam sejarah Jawa. Dalam ilmu metalurgi Jawa yang kerap digunakan untuk membuat keris, besi “purosani” yang berasal dari kata “khorasani” merupakan besi yang bernilai tinggi untuk membuat keris.

Naskah melayu yang tertua yang berasal dari akhir abad 14, manuskrip Tanjung Tanah dari Kerinci, menyebutnya sebagai besi “kuraysani”. Sedangkan naskah Bujangga manik dari Sunda (abad 15), menyebutnya sebagai besi “purasani”.

Satu tenek atau satu tola dalam istilah Tamil adalah jumlah satuan pembayaran yang menjadi satu tali dalam bahasa Melayu. Menurut penelusuran mesin pencari di internet, uang tenek, tola, atau taka adalah mata uang yang dibuat dari perak. Satu perak sama dengan satu dirham.

Dirham adalah salah satu mata uang yang relatif cukup stabil untuk dikonversikan hari ini. Berdasarkan info pasar uang saat ini satu dirham bisa bernilai sekitar Rp40.000.

Nikitin menyebutkan bahwa pembayaran itu berlaku di Jawa “besar” ataupun Jawa “kecil”. Merujuk pada catatan Marco Polo, sebutan Jawa “besar” adalah Sumatra sedangkan Jawa “kecil” adalah pulau Jawa itu sendiri.

Nikitin menambahkan, jika prajurit Khorasan itu menikahi orang Jawa maka Raja di sana akan memberi 1.000 perak karena tersanjung. Selanjutnya dia akan diberi gaji 10 perak per bulan dan jumlah yang sama untuk makan.

Berdasarkan naskah yang terdapat di situs https://tangentialia.wordpress.com/, raja Jawa disebutkan membayar 50 perak per bulan sesudahnya. Nikitin menambahkan, pada saat itu di Jawa, kain sutera, kayu gaharu, dan mutiara bisa didapatkan dengan harga murah.

Nikitin mencatat bahwa orang-orang Yahudi yang dia temui mengklaim bahwa Jawa adalah tanah air mereka. Tapi Nikitin menilainya sebagai kebohongan. Sepengetahuan Nikitin orang-orang Jawa bukanlah Yahudi, bukan Kristen, atau Muslim. Mereka beragama lain yaitu Hindu. Mereka tidak biasa makan dengan orang yang bukan sesamanya. Semua sangat murah di Jawa, termasuk sutera dan gula tempat barang ini dibuat.

Satu yang harus diingat, catat Nikitin. Di Jawa terkenal dengan hutan-hutannya di mana mereka bisa bertemu monyet dan macan. Binatang-binatang buas ini bisa menyerang manusia. Maka tidak ada seorang pun di Jawa yang berani berjalan pada malam hari karena mereka akan dimangsa binatang-binatang ini.

Serangan monyet adalah hal-hal yang lazim dicatat para pedagang tentang kondisi Jawa pada masa itu. Beberapa sumber Tiongkok mencatat tentang hal ini. Di akhir catatannya, Nikitin menulis tentang waktu tempuh perjalanan ke Jawa. Dari Jawa ke Tiongkok (Cathay) perlu waktu 10 bulan jika melewati darat dan empat bulan jika memakai “Jung” atau kapal besar. (sumber)

Add Comment