Area Ditutup, Candi-Candi Disemprot Disinfektan

foto
Juru pelihara menutup pintu akses masuk wisatawan ke area Candi Bajangratu Trowulan. Foto: Radarmojokerto.id

Salah satu yang paling getol menghindari peredaran virus asal Wuhan, China, ini adalah destinasi wisata sejarah dan budaya di Trowulan.

Sejak Minggu (15/3) tujuh dari puluhan situs sejarah dan budaya ini terpaksa ditutup untuk umum. Hanya tampak beberapa aktivitas petugas yang melakukan perawatan dan pembersihan benda cagar budaya (BCB) setiap harinya.

Seperti di Pengelolaan Informasi Majapahit (PIM) atau Museum Trowulan yang menyimpan lebih dari 80 ribu BCB berbagai bentuk.

Meski ditutup, aktivitas pelestarian terhadap BCB tetap berjalan seperti biasa. Bahkan, sejak isu korona mencuat dalam beberapa hari terakhir, aktivitas pelestarian justru semakin ditingkatkan.

Revitalisasi dan pembersihan BCB dari kotoran dan virus yang menempel pun menjadi konsen Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Timur (Jatim). Selain untuk menjaga kualitas dan nilai sejarah, keamanan dan kesehatan kunjungan juga menjadi faktor utama pelestarian.

“Sesuai arahan atasan, untuk mencegah persebaran Covid-19, kunjungan kami tutup untuk sementara waktu sampai batas waktu yang tidak ditentukan. Aktivitas kami lebih fokuskan pada revitalisasi BCB,” tutur Muhammad Ichwan, Kepala Unit PIM BPCB Jatim. Ichwan menjelaskan, ada empat tahap yang biasa dijalani tim ekskavator dalam merawat kualitas candi dan BCB.

Dimulai dari pembersihan kering menggunakan sikat dan vacum cleaner, pembersihan basah menggunakan air mineral, pembersihan konvensional menggunakan alat, dan terakhir pembersihan khusus dengan menggunakan bahan kimia.

Nah, dari empat tahapan itu, BPCB juga menambah satu tahapan lagi, yakni menggunakan desinfektan atau antiseptic. Tujuannya, untuk mengusir bakteri dan virus jahat yang menempel pada BCB dan fasilitas di sekitarnya.

“Karena jumlahnya banyak, kualitas dan intensitas ekskavasi juga ditambah. Intervalnya tergantung tim ekskavator,” imbuh Ichwan.

Koleksi BCB yang tersimpan di Museum Trowulan sebagian besar terbuat dari batu-batuan dan keramik. Termasuk juga bahan logam dan kayu yang banyak dipajang dan menjadi tontonan pengunjung. Untuk jenisnya, koleksi BCB dibagi berdasarkan fungsinya.

Seperti alat upacara yang berupa arca dan uang koin. Lalu alat aktivitas sehari-hari, seperti gayung, kendi, dan priuk. Alat produksi seperti benang dan bandul, serta alat arsitektural, seperti miniatur rumah, dan miniatur candi.

Ichwan mengaku jumlah kunjungan wisatawan setiap hari di museum mencapai 500 orang dengan mayoritas adalah kalangan pelajar. “Ada juga kunjungan turis dari Asia maupun Eropa. Tapi bukan mayoritas,” tambahnya.

Tidak hanya museum, situs purbakala peninggalan Majapahit lain juga ikut ditutup. Seperti Candi Brahu, Candi Bajangratu, Candi Tikus, Candi Wringin Lawang, Candi Kedaton, dan Candi Gentong.

Penutupan objek wisata sejarah itu dilakukan untuk mencegah penyebaran virus korona. Dan belum bisa dipastikan batas waktu penutupannya. “Penutupan sampai waktu yang belum ditentukan. Kami menunggu informasi selanjutnya,” pungkasnya. (sumber)

Add Comment