Di Tulungagung Usir Pagebluk dengan Tetek Melek

foto
Warga Desa Wajak Kidul Boyolangu Tulungagung. Foto: Istimewa.

Indonesia dengan ribuan suku bangsa dan budayanya memiliki kearifan lokal yang beragam. Seperti yang ditunjukkan puluhan keluarga di dusun Wajak desa Wajak Kidul kecamatan Boyolangu Tulungagung ini.

Adanya pandemi penyebaran Corona seperti yang ditetapkan oleh pemerintah ini, 11 keluarga di dusun tersebut memilih untuk menghidupkan kembali kebudayaan nenek moyang untuj mengusir Corona, atau yang mereka sebut dengan Pagebluk.

Dalam bahasa jawa kuno, Pagebluk merupakan sebutan untuk wabah penyakit berbahaya yang mengancam keselamatan manusia. Biasanya bahasa ini digunakan untuk menggambarkan ancaman penyakit yang berkaitan dengan hal-hal spiritual.

Kondisi yang terjadi saat ini dianggap sebagai sebuah Pagebluk yang harus ditangkal dengan menghidupkan lagi kebudayaan mereka dengan memasang Tetek Melek di depan rumah.

Tetek Melek adalah tiruan topeng yang terbuat dari pelepah pohon kelapa (bongkok) yang bagian ujungnya diberi gambar wajah seram, lengkap dengan Mata, Hidung, Mulut hingga Telinga.

Srini (70), salah satu warga mengatakan Tetek Melek dipercaya bisa menjadi tolak bala atas Pagebluk yang sedang melanda, termasuk Corona ini.

“Ini tradisi orang tua jaman dulu. Tolak bala berupa topeng “tetek melek” ini bisa usir pagebluk,” ujarnya.

Saat masih kecil, Srini juga pernah mengalami Pagebluk, kemudian leluhurnya menerapkan hal yang sama yakni memasang Tetek Melek di depan rumah mereka.

“Orang tua dulu meyakini bisa. Dan kamipun berharap benar dan mempasrahkan semuanya kepada yang diatas. Ini salah satu upaya kami,” katanya

Srini menyebut, Tetek Melek yang dipasangnya ini bukan sembarangan topeng karena dalam proses pembuatannya tidak bisa dilakukan dengan sembarangan.

Sebelum membuatnya, dirinya harus berwudhu terlebih dahulu kemudian melumurkan gamping putih di bagian bongkok yang paling lebar. Setelah kering, dilanjutkan dengan membuat gambar Mata, Hidung, Mulut dan Telinga mengguanakan arang kayu bakar. “Kalau batal, ya harus wudhu lagi. Jadi tidak sembarangan buat ya,” tegasnya

Setelah selesai, tokoh ketua adat membacakan doa-doa berisi harapan agar diberi keselamatan dari ancaman Pagebluk termasuk Corona ini.

“Terakhir, topeng -topeng ini ditaruh di teras. Harapannya, wabah itu tidak masuk ke lingkungan atau bahkan rumah kami,” lanjutnya.

Hal yang sama juga disampaikan oleh Yasmini, kendati diakuinya pemasangan Tetek Melek ini bisa saja dianggap aneh, namun yang dilakukannya hanya untuk melestarikan tradisi nenek moyang.

“Ini murni jalankan tradisi. Dan tidak ada salahnya mencoba. Sebab, kondisi sekarang tetap kami pasrahkan marang Gusti Allah,” jelasnya.

Dirinya dan 11 warga lainnya berharap, penyebaran Corona ini bisa segera berhenti, sehingga masyarakat bisa kembali beraktifitas normal seperti biasa. (sumber)

Add Comment