Perjalanan Huruf Palawa jadi Aksara Jawa

foto
Abdi dalem Keraton Yogyakarta membaca buku tradisi bahasa Jawa. Foto: ANTARA.

Kisah Aji Saka sungguh merupakan mitos unik yang jarang ada duanya. Mitos khas ini bukan saja bisa menjadi folkore yang mengisahkan evolusi kebudayaan, lebih dari itu secara fonetik ia telah dikontruksikan sebagai simbol huruf yang memudahkan proses literasi dalam masyarakat.

Heddy Shri Ahimsa-Putra (2016) dalam Ha-Na-Ca-Ra-Ka Aji Saka, Mitos Keberaksaraan, Mitos Peradaban, melihat fragmen akhir kisah Aji Saka ini sebagai fase civilization dalam kebudayaan Jawa. Fase ini ditandai dengan dikenalnya budaya melek aksara. Sayang, Ahimsa tak menyorot pembabakan waktu. Ini tentu bisa dipahami. Pendekatan strukturalisme pada basis pemikiran Ahimsa memang cenderung antihistorisme.

Sekalipun artikel Ahimsa itu tak menyebut nama Levi-Strauss, namun siapa pun yang mengikuti ide-ide pemikiran Guru Besar Antropologi UGM ini pasti bakal mahfum. Ia merupakan eksponen pengusung tradisi pemikiran strukturalisme yang dibawa oleh pemikir besar dari Prancis itu.

Sementara, Levi-Strauss sendiri ialah salah seorang kritikus atas metodologi historisme. Wajar saja, karena itu Ahimsa jadi tak mendedah aspek historisitas legenda Aji Saka ini. Maka, untuk menjawab persoalan siapa Aji Saka, itu sebuah tantangan tersendiri.

Siapakah sesungguhnya Aji Saka? Apakah sosok historis ataukah rekaan. Jika sosok historis, apakah Aji Saka ialah orang asing ataukah asli Jawa? Jika ia hanyalah sosok rekaan, apakah makna di balik cerita legenda yang begitu populer tersebut?

Problem yang tak kalah pelik ialah menelusuri periodesasi di mana narasi Aji Saka mulai hidup di tengah masyarakat. Patut diduga, awalnya narasi ini bagian dari sastra lisan atau tradisi keberlisanan. Dituturkan turun-temurun antargenerasi. Barulah pada perkembangan sejarah kemudian narasi ini mulai ditranskrip menjadi teks dalam lontar-lontar.

Pertanyaannya ialah, sejauh ini inskripsi teks Aji Saka versi tertua berasal dari kisaran tahun berapa? Selain itu, yang tak kurang menariknya ialah mencari tahu sejak kapan aksara Ha-Na-Ca-Ra-Ka, atau juga popular disebut dengan nama “Carakan” ini, mulai digunakan dalam penulisan sastra Jawa.

Mencari Fakta-Fakta
Kita berangkat dari fakta-fakta. Barulah dari sana aspek folklore, legenda, atau mitos, dari narasi Aji Saka ini, coba disusun, dibaca, dan diinterpretasi ulang berdasarkan fakta-fakta.

Maka titik tolak fakta-fakta ialah studi paleografi, sebuah ilmu yang meneliti perkembangan bentuk tulisan kuno. Di Indonesia perintis kajian paleografi ialah AB Cohen Stuart, yang menerbitkan karyanya Kawi Oorkonden in Fasimile, Mer Inleiding en Transcriptie.

Kemudian diikuti oleh Holle, Kern, Casparis, Krom, Brandes, Stutterheim, Poebtjaraka, Buchari, dan lainnya, maka studi paleografis di Indonesia tentu terlihat semakin berkembang. Hanya saja karena fokus kita ialah soal pembabakan sejarah maka cukuplah kita simak penelitian Casparis, dan nantinya dari disiplin filologis kita kemudian masuk pada penelitian Zoetmulder.

Berbasis penelitian inskripsi dari temuan prasasti-prasasti maupun naskah kuno di Nusantara, Profesor JG de Casparis (1975) dalam Indonesian Palaeography: A History of Writing in Indonesia from the Beginnings to C. A.D. 1500 menyatakan, aksara telah dikenal oleh masyarakat Nusantara setidaknya selama seribu lima ratus tahun yang lampau. Ia membagi perkembangan aksara Jawa ke dalam lima periode sejarah.

Mundur di awal Masehi sebagai periode awal atau pertama. Fase ini berlangsung hingga memasuki pertengahan abad kedelapan. Saat itu aksara Palawa Awal dan Palawa Akhir merupakan sarana masyarakat Nusantara menulis, tidak kecuali orang Jawa.

Ketika itu masyarakat di Indonesia sepenuhnya mengadopsi aksara Palawa dan berbahasa Sansekerta dalam penulisan inskripsi-inskripsi resmi. Contohnya bisa disimak dari Prasasti Kutai dari abad ke-4 M, Prasasti Tarumanegara (Jawa Barat), momen awal dari Prasasti Sriwijaya, hingga Prasasti Canggal (Jawa Tengah) di awal abad ke-8.

Periode kedua ialah aksara Kawi Awal. Berkisar antara 750 – 925 M. Seperti kita tahu, istilah Kawi itu sinonim dengan istilah “Jawa Kuno”. Penyebutan Jawa Kuno sebagai padanan Kawi dipelopori oleh NJ Krom. Dengan begitu istilah Kawi Awal dalam pembabakan Casparis ini juga sinonim dengan istilah Jawa Kuno Awal.

Jika periode ini diperinci, maka pada kurun itu bisa dibedakan antara bentuk aksara Fase Kuno hingga ditemukannya bentuk standar aksara Kawi Awal. Contohnya bisa disimak pada inskripsi yang ditulis di Prasasti Plumpungan, Prasasti Dinoyo, Prasasti Balitung, maupun prasasti-prasasti yang ditulis di sepanjang 910 – 925 M.

Periode ketiga, yaitu aksara Kawi Akhir atau Jawa Kuno Akhir. Berkisar antara 925 – 1250 M. Fase ini meliputi inskripsi di sepanjang era awal kerajaan Medhangkamulan di Jawa Timur (910 – 947 M); di sepanjang kekuasaan Raja Airlangga (1019 – 1042 M); juga masih muncul di era Kerajaan Kediri (1100 – 1220 M).

Periode keempat, yang supaya mudah sebut saja dengan nama aksara “Jawa Majapahit”. Casparis sendiri mengkategorisasikan periode ini sebagai “aksara Jawa dan beberapa aksara regional pada periode Majapahit”. Berkisar antara 1250 – 1450 M. Pada fase ini, aksara Jawa di zaman Majapahit sudah jauh berbeda dengan aksara Palawa sebagai induknya.

Contohnya bisa disimak pada inskripsi yang ditulis dalam Prasasti Kudadu di Mojokerto, Prasasti Adan-adan di Bojonegoro, dan Prasasti Singhasari di Malang, dan lainnya.

Periode kelima, yaitu aksara Jawa dari pertengahan abad ke-15 M hingga sekarang. Orang sering menyebut kurun ini sebagai langgam aksara dari era Jawa Baru atau Jawa Modern.

Dari adanya pembabakan historis ini segera bisa diketahui, bahwa aksara Jawa sebagaimana kita kenal sekarang tidaklah terbentuk secara serta-merta, melainkan ia juga mengalami sejarah perkembangan dan pembentukannya secara evolutif.

Artinya, bicara secara simplisit dan generalis tentang aksara Jawa, sejauh ini bisa disimpulkan secara historis: Bermula dari aksara Palawa, Jawa Kuno Awal, Jawa Kuno Akhir, Jawa Majapahit, hingga barulah kemudian berkembang menjadi aksara Ha-Na-Ca-Ra-Ka atau Carakan.

Casparis menggarisbawahi, aksara Jawa “baru” ini, berangsur-angsur muncul dari aksara Kawi pada peralihan abad ke-14 hingga 15 M, tatkala Tanah Jawa mulai menerima pengaruh Islam yang signifikan.

Tak jauh berbeda ialah kesimpulan Profesor PJ Zoetmulder. Hanya saja Romo Zoetmulder dalam Kalangwan—Sastra Jawa Kuno, Selayang Pandang (1973), membagi perkembangan aksara Jawa—atau lebih tepatnya ialah “sastra Jawa”—menjadi tiga dan bukan lima periode, yaitu: Jawa Kuno, Jawa Pertengahan, dan Jawa Modern.

Menurut Zoetmulder, jika pada karya susastra di era Jawa Kuno memiliki ciri-ciri menggunakan metrum a-la India yang lazim disebut kakawin, maka pada susastra di era Jawa Pertengahan memiliki ciri metrum asli Jawa atau kidung.

Lebih jauh, menurut Zoetmulder, kosa kata dari kedua jenis sastra Jawa ini bisa dikata didominasi oleh serapan kata dari bahasa Sanskerta dan pengaruh kuat budaya India. Mengutip perkiraan J Gonda dalam Sanskrit in Indonesia, Zoetmulder mencatat puisi-puisi Jawa Kuno yang disusun mengikuti metrum ala India, kakawin, mengandung kurang lebih 25 – 30 persen kesatuan kata yang berasal dari bahasa Sanskerta.

Sementara, ciri-ciri yang mengemuka pada susastra di era Jawa Baru atau Jawa Modern, seturut Zoetmulder, ditandai oleh dominannya unsur-unsur serapan kosa kata dari bahasa Arab dan pengaruh kuat budaya Islam.

Dari uraian Zoetmulder yang sangat kaya ini, poin penting yang relevan dengan diskusi ini ialah titik tolak sejarah kelahiran aksara Jawa Kuno itu sendiri. Ini penting diulas karena, entah langsung ataupun tidak, bakal terkait dengan mitos Aji Saka.

Sekali lagi, Zoetmulder tidak menyebut sebagai tonggak kemunculan aksara Jawa. Lebih luas daripada itu, Zoetmulder memilih menyebut sebagai tonggak yang mengawali sejarah “bahasa Jawa Kuno” atau “sastra Jawa Kuno.”

Pertanyaannya ialah: sejak kapan kemunculan bahasa Jawa Kuno secara kronologis dicatat sejarah? Apakah titik tolak mailstones dari karya sastra Jawa Kuno itu?

Titik tolaknya ialah ditemukan sebuah prasati bertahun Saka: 726 S. Atau dalam tahun Masehi, persisnya ialah tanggal 25 Maret 804 M. Sohor disebut Prasasti Sukabumi.

Ya, awal abad kesembilan. Demikianlah pentingnya titimangsa itu, karena menurut Zoetmulder prasasti ini ialah piagam pertama yang mempergunakan aksara dan bahasa Jawa Kuno. Dan sejak tanggal, bulan dan tahun itulah bahasa Jawa Kuno ini selalu dipakai dalam kebanyakan penulisan resmi.

Tentu saja ada banyak prasasti yang usianya jauh lebih tua. Tapi, selalu saja inskripsi sebelum itu ditulis dalam bahasa Sanskerta, baik melalui aksara Palawa maupun Jawa Kuno, namun belum ditulis melalui bahasa Jawa Kuno.

Sayangnya, Prasasti Sukabumi bukanlah deklarasi tentang kedatangan tokoh Aji Saka. Catatan resmi ini tidak bertutur seputar Medang Kamulan, konon ialah nama negeri tempat Aji Saka bertahta di Jawa.

Sementara istilah ‘Medang’, tanpa imbuhan kata ‘Kamulan’, juga barulah tercatat muncul jauh hari di era Wangsa Sanjaya. Sebutlah tertulis dalam Prasasti Mantyasih, berangka 907 M. Ada jeda seratus tahun lebih dari saat ditulisnya Prasasti Sukabumi, 804 M.

Harus diakui tak mudah mencari benang merah korelasi historis, antara fakta-fakta arkeologis atau paleografi di satu sisi dan inskripsi naskah-naskah tua Aji Saka di sisi lain.

Sayangnya lagi, karena keterbatasan ruang maka tentang pelbagai interpretasi terhadap aspek simbolik atau mitologis dari narasi Aji Saka dan bagaimana korelasinya dengan fakta historis yang entah langsung atau tidak tercermin pada pelbagai inskripsi kuno, bakal ditulis dalam sebuah artikel tersendiri. (sumber)

Add Comment