Mata Air Sumber Suyo, Sarana Kesembuhan ODGJ

foto
Foto:
foto
Mata air Sumber Suyo di Kelurahan Bawang, Kecamatan Pesantren, Kota Kediri. Foto : Super Radio/Rahman Halim.

Sejak tiga tahun terakhir, Mbah Slamet menyepi di konservasi mata air Sumber Suyo di Kelurahan Bawang, Kecamatan Pesantren, Kota Kediri. Kakek berusia 90 tahun ini tinggal di mushola setempat untuk menjaga dan merawat Sumber Suyo.

Mata air Sumber Suyo konon diyakini memiliki khasiat untuk penyembuhan orang dengan gangguan jiwa (ODGJ).

“Diberi nama Sumber Suyo karena dulu masyarakat sini waktu kerja bakti secara tidak sengaja menemukan sumber mata air. Lalu diberi nama Sumber Suyo,” ujarnya.

Ada lima sumber mata air di Sumber Suyo yang memiliki kedalaman sekira satu meter ini.

“Air yang ada di sumber biasa saya pergunakan untuk memandikan orang yang menderita gangguan jiwa. Tentunya selain dimandikan harus didoakan, meminta kepada Tuhan agar si penderita gangguan jiwa ini dapat disembuhkan,” ujar Mbah Slamet dalam dialek bahasa Jawa .

Mbah Slamet mengklaim telah menyembuhkan penderita gangguan jiwa lebih dari 10 kali. Kebanyakan berasal dari luar daerah.

Proses penyembuhan dilakukan dengan ritual doa menggunakan bahasa Jawa. Jika ikhtiar yang dilakukan mendapat ridho dari Tuhan, penderita gangguan jiwa bisa sembuh dalam rentang waktu 7 sampai 10 hari paling lama.

Setelah ritual dan dinyatakan sembuh ia meminta pihak keluarga pasien untuk segera meninggalkan Sumber Suyo.

Meskipun banyak orang yang datang membutuhkan jasanya, Mbah Slamet tidak pernah sekalipun pasang tarif kepada keluarga pasien. Jika pun ada keluarga yang memberikan tali asih ia terima, andaikata tidak diberi pun ia ikhlas.

Mbah Slamet pun bercerita tentang seorang pemuda dalam kondisi bertelanjang dada sedang duduk disebuah bangunan yang dibawahnya terdapat sumber mata air.

“Dia sudah beberapa bulan kesini, saya mencoba mengobatinya. Dia itu kalau ngamuk merusak apa saja,” kata Mbah Slamet.

Pemuda ini diantar oleh petugas kepolisian. Dan, untuk pemenuhan kebutuhan makan dan minum, pemuda ini mendapatkan bantuan dari salah seorang laki-laki yang mengaku berasal dari Nganjuk berstatus ASN.

Proses penyembuhan secara spiritual terhadap bersangkutan memang membutuhkan waktu, mengingat pemuda yang berciri fisik memiliki tinggi badan 168 centimeter ini sangat sulit untuk diajak berkomunikasi.

Meski demikian ia masih optimis bisa menyembuhkan lelaki tersebut dengan kemampuan spiritualnya.

Sementara itu, Sumarni selaku Kasi Rehabilitasi Sosial Dinsos Kota Kediri ketika dikonfirmasi terkait temuan orang gangguan jiwa yang ditempatkan di konservasi mata air Sumber Suyo mengaku, dirinya sudah mendapatkan informasi terkait hal itu.

Menurutnya, Dinas Sosial sudah memberikan perhatian kepada bersangkutan. “Sudah kita data lewat TRC dan kelurahan,” ujarnya.

Belakangan diketahui jika sebelumnya bersangkutan pernah dibawa berobat tetapi hasilnya sama tak kunjung sembuh.

“Menurut teman-teman saya yang dulu, sebelum saya. Bersangkutan juga pernah ada upaya penyembuhan. Terus disitu masuk padepokan dan sampai sekarang kondisinya tetap seperti itu,” tutur Sumarni.

Sumarni tidak memungkiri memang di mata air sumber pernah dipergunakan untuk kegiatan ritual menyembuhkan orang yang menderita gangguan jiwa.

“Informasi yang saya dengar seperti itu,” ujar Sumarni.

Sekedar diketahui data yang masuk di kantor Dinsos menyebut, di periode tahun 2020 lalu, tercatat ada kurang lebih 500 orang penderita gangguan jiwa di Kota Kediri.

“Yang kemarin sampai Agustus kan 380 sekian, sekarang sampai akhir Desember 2020 sekitar 500 orang,” imbuhnya. (rh/red)

Add Comment