Membina Tradisi, Mengembalikan Kebanggaan Negeri

foto
Foto:
foto
Kesenian Reog Ponorogo mampu menjadi daya tarik wisatawan mancanegara. Foto: Humas Pemkot Sby.

INDONESIA dikenal kaya akan keragaman budaya, suku, dan bahasa. Keragaman suku bangsa, budaya dan bahasa diikuti lahirnya beragam seni tradisi yang begitu melimpah. Keragaman itu sekaligus menjadi pelengkap kekayaan alam Bumi Pertiwi.

Ragam seni budaya warisan nenek moyang membuat khazanah kehidupan berbangsa di Tanah Air kian indah. Kekayaan seni budaya menjadi anugerah yang luar biasa. Kekayaan ini menjadi magnet luar biasa dan sangup mendatangkan pelancong ke Tanah Air.

Namun, seiring berjalannya waktu, dan seiring kian massive-nya pengaruh globalisasi. Ditambah limpahan arus informasi yang begitu dashyat berkat kecanggihan tehnologi khususnya internet, membuat seni tradisi lambat laun mulai terpinggirkan. Seni tradisi adiluhung perlahan mulai ditinggalkan terutama oleh generasi muda.

Generasi internet, lebih gandrung dengan kehidupan yang terlihat ‘mapan’, gandrung dengan budaya pop. Seni tradisi terlihat lebih kuno. Apresiasi terhadap pegiat seni tradisi pun, terus memudar. Akhirnya kesenian tradisi yang memiliki nilai luar biasa ini seperti mati suri. Hidup segan, mati pun tak mau.

Kesadaran akan kekayaan budaya bangsa kembali menyeruak tatkala muncul klaim atas kekayaan negeri oleh bangsa lain. Seperti yang terjadi pada kesenian tradisional Reog Ponorogo. Kesenian ini sempat menjadi polemik kala diklaim jadi kekayaan negara tetangga.

Tapi sayangnya, setelah polemik berakhir, atensi terhadap kesenian tradisional belum juga membaik. Padahal, para pelaku seni tradisi merupakan para pengabdi sejati.

Para pelestari seni budaya warisan leluhur, yang rela menghabiskan waktu tenaga dan pikiran demi melestarikannya. Tanpa dukungan nyata, para pelaku dan pelestari ini akan kehabisan darah sebelum akhirnya mati.

Tak ingin itu terjadi, PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) (Persero) turut ambil bagian. Badan usaha Milik Negara (BUMN) ini tergerak ikut melestarikan seni tradisi dengan melakukan pendampingan terhadap kelompok seni tradisi yang terkesan ‘mati suri’ Reog Ponorogo Singo Mangkujoyo di Jl Gubeng Kertajaya V, Surabaya.

Bantuan uang pembinaan diberikan melalui program Corporate Social Responsibility (CSR) PLN Peduli. Bantuan sebesar Rp 150 juta diberikan secara bertahap demi menghidupkan kembali kelompok seni tradisi ini. Perlahan, suntikan kepedulian PLN berhasil membuat Reog Ponorog Singo Mangkujoyo hidup kembali.

Kini Reog Ponorogo Singo Mangkujoyo binaan PLN sudah melalang buana untuk tampil di berbagai event. Salah satunya, tampil pada Parade Budaya dan Bunga Surabaya 2016 pertengahan tahun lalu. Event yang digelar dalam rangkaian HUT Kota Surabaya mengambil titik start di Tugu Pahlawan dan finish di Balaikota Surabaya.

“Masyarakat cukup antusias menyambut grup reog binaan PLN. Banyak mengunjung yang mengajak swafoto atau selfie baik dengan reog maupun mobil bunga PLN,” ucap Deputi Manager Komunikasi dan Bina Lingkungan PT PLN (Persero) Distribusi Jatim, Pinto Raharjo, seperti dirilis Humas PLN Jatim di Koran Sindo.

Hidupkan Kesenian Ludruk
Berhasil membangkitkan kembali Reog Ponorogo Singo Mangkujoyo tak membuat atensi PLN terhadap pelestarian seni tradisi berakhir. PLN menambah target sasaran pembinaan pada kesenian tradisi lain. Masih dengan dana CSR PLN Peduli, perusahaan listrik ini menyasar kesenian ludruk.

Kesenian asli Jatim yakni ludruk dihidupkan kembali dengan dana CSR senilai Rp 200 juta yang disalurkan secara bertahap. Dengan langkah itu, diharapkan kesenian tradisional khas Indonesia seperti ludruk dan reog tidak lagi diklaim sebagai seni budaya negaralain.

Manager Komunikasi Hukum dan Administrasi PT PLN Distribusi Jatim G Wisnu Yulianto mengatakan, bantuan CSR yang ditujukan untuk seni tradisional Jatim sengaja dititikberatkan pada kenyataan kelestarian ludruk yang kini juga seakan mati suri. Seperti halnya pada Reog Ponorogo.

“Siapa lagi yang peduli terhadap kesenian tradisional jika bukan dari perusahaan yang memiliki kepedulian seperti yg dilakukan PLN. Kami berharap perusahaan lain maupun BUMN lainnya memiliki kepedulian yang sama dalam upaya menghidupkan seni tradisional ini,” harapnya.

Kesenian ludruk yang beruntung mendapat suntikan bantuan dana CSR adalah Ludruk Karya Budaya Mojokerto. Selain bantuan uang, PLN juga melakukan pendampingan manajemen agar lebih baik lagi.

“Kami yakin, ludruk akan tumbuh menjadi lebih besar dan bertahan diantara seni budaya dari negara lain. Dan masyarakat Indonesia khususnya Jawa Timur masih suka menonton ludruk,” terang Wisnu.

Pimpinan Ludruk Karya Budaya Mojokerto, Eko Edy Susanto mengemukakan, sangat bangga dengan bantuan dari PLN tersebut. Dana yang sudah diterimanya siap digunakan untuk beberapa keperluan seperti perbaikan ‘lighting’, pembelian genset, ‘dimmer’ (tata lampu), kaos pengrawit dan honor personel pelawak.

”Kami sangat bersyukur karena bantuan dari PLN memang di luar dugaan. Bahkan, mimpi yang sebenarnya dan akan memacu kami insan seniman ludruk untuk bangkit dan berusaha untuk hidup lagi,” katanya.

Ia meyakini, dengan semakin banyaknya kegiatan CSR yang salurkan perusahaan terutama untuk kesenian tradisional maka akan memacu ludruk tumbuh menjadi lebih besar. Selain itu, ludruk bisa menjadi seni budaya tradisional yang selalu bertahan baik di dalam negeri maupun di masyarakat internasional. (sak)

Add Comment